Saat sedang marah, rasanya ada dorongan untuk segera mengeluarkan apa yang ada di kepala. Media sosial pun sering menjadi tempat yang paling mudah untuk meluapkan emosi. Cukup membuka aplikasi, menulis keluhan, lalu menekan tombol unggah. Namun, melampiaskan kemarahan di media sosial ternyata tidak selalu membuat perasaan menjadi lebih lega. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan tersebut justru dapat membuat emosi negatif semakin kuat. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, mengatakan media sosial bukan tempat yang tepat untuk melampiaskan amarah. “Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin hal tersebut malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya,” kata Ratih dikutip Sabtu (9/8/2026).
Meluapkan emosi memang bisa terasa melegakan
Menurut Ratih, mengeluarkan unek-unek atau melakukan katarsis memang dapat memberikan rasa lega. Ketika seseorang sedang marah, bercerita atau mengungkapkan perasaan bisa membuat beban emosional terasa berkurang untuk sementara. Namun, rasa lega tersebut belum tentu berlangsung lama. Jika kemarahan terus dituangkan dalam bentuk unggahan, komentar, atau balasan di media sosial, seseorang justru dapat kembali memikirkan hal yang membuatnya marah. Emosi tersebut kemudian berpotensi terus dipelihara melalui pengulangan pikiran maupun percakapan di ruang digital. Dengan kata lain, meluapkan kemarahan secara impulsif belum tentu menyelesaikan sumber masalah. Sebaliknya, tindakan tersebut dapat membuat seseorang semakin terikat pada emosi yang sedang dirasakan.
Berisiko menimbulkan masalah baru
Selain berpotensi memperkuat emosi negatif, unggahan yang dibuat ketika seseorang sedang marah juga dapat menimbulkan persoalan baru. Misalnya, muncul konflik dengan orang lain, penyesalan setelah emosi mereda, hingga dampak terhadap reputasi profesional. Terlebih, media sosial membuat sebuah unggahan dapat dilihat dan disebarkan oleh banyak orang dalam waktu singkat. Ratih mengingatkan, risiko tersebut menjadi semakin besar ketika kemarahan diarahkan kepada orang lain dalam situasi yang memiliki relasi kuasa tidak seimbang. “Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah individu yang memiliki relasi kuasa yang tidak seimbang, seperti pasien,” ujarnya. Karena itu, penting untuk mempertimbangkan kembali apakah sesuatu memang perlu dipublikasikan atau cukup diproses secara pribadi.
Mengapa kita lebih berani di media sosial?
Ada alasan psikologis yang membuat seseorang terkadang lebih mudah bereaksi secara emosional di ruang digital. Dalam psikologi, kecenderungan seseorang menjadi lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri ketika berada di ruang digital dikenal sebagai online disinhibition effect. Menurut Ratih, karakteristik media sosial dapat membuat seseorang merasa lebih bebas dalam bereaksi dibandingkan ketika berinteraksi secara langsung. Adanya jarak dengan lawan bicara, kemungkinan anonimitas, serta minimnya konsekuensi yang langsung terlihat dapat membuat seseorang lebih mudah mengabaikan kontrol diri. Itulah sebabnya, sesuatu yang mungkin sulit dikatakan secara langsung bisa terasa lebih mudah dituliskan di layar. Lalu, bagaimana sebaiknya melampiaskan marah? Ratih menyarankan agar emosi diproses melalui cara yang lebih konstruktif daripada langsung melampiaskannya di media sosial. Salah satunya adalah berbicara dengan orang yang dipercaya. Menceritakan masalah kepada seseorang yang dapat memberikan ruang untuk didengar tanpa menghakimi dapat membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya dirasakan. Selain itu, seseorang juga dapat melakukan refleksi untuk mengenali sumber kemarahan dan mempertimbangkan langkah yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Jika tekanan atau emosi negatif berlangsung dalam waktu lama dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, Ratih menyarankan untuk mencari bantuan profesional. Pada akhirnya, memiliki emosi marah merupakan hal yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana emosi tersebut disalurkan. Media sosial memang dapat menjadi ruang untuk berekspresi, tetapi bukan berarti semua emosi harus dibagikan kepada publik.
Seperti diingatkan Ratih, kemampuan mengelola emosi penting agar media sosial tidak berubah menjadi tempat pelampiasan yang justru memperpanjang kemarahan dan menimbulkan persoalan baru. Terlebih, setiap unggahan meninggalkan jejak digital yang dapat sulit dihapus dan dampaknya bisa meluas jauh setelah emosi seseorang mereda.