Sebagian orang memilih berolahraga pada pagi hari agar tubuh lebih segar, sementara yang lain merasa performanya justru lebih baik pada sore atau malam hari. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang. Waktu olahraga yang paling efektif untuk menjaga kesehatan jantung ternyata bergantung pada chronotype, yaitu kecenderungan alami tubuh untuk aktif pada pagi atau malam hari. Baca juga: Cinta Olahraga, Dokter Anak Taklukkan Kompetisi Hyrox Global Sesuaikan olahraga dengan jam biologis tubuh Penelitian melibatkan 150 orang berusia 40-60 tahun yang memiliki sedikitnya satu faktor risiko penyakit jantung, seperti obesitas, kelebihan berat badan, atau tekanan darah tinggi.
Para peserta dibagi berdasarkan chronotype menjadi kelompok “morning person” dan “night owl”. Selama 12 minggu mereka berjalan cepat di treadmill selama 40 menit, lima kali seminggu.
Peserta yang termasuk tipe pagi berolahraga antara pukul 08.00-11.00, sedangkan tipe malam berolahraga pukul 18.00-21.00. Hasilnya, mereka yang berolahraga sesuai jam biologis memperoleh manfaat kesehatan yang lebih besar dibandingkan peserta yang berolahraga di luar waktu alami tubuhnya.
Manfaatnya terlihat pada tekanan darah dan kualitas tidur Peneliti utama dari University Institute of Physical Therapy, University of Lahore, Pakistan, Dr. Arsalan Tariq, DPT, menjelaskan, waktu olahraga memiliki peran penting selain frekuensi maupun intensitas latihan. “Kebaruan utama penelitian ini adalah menunjukkan bahwa waktu berolahraga juga penting, bukan hanya seberapa sering atau seberapa berat latihannya,” ujar Dr. Tariq, seperti dikutip Everyday Health, Rabu (8/7/2026). Tubuh bekerja mengikuti ritme sirkadian yang mengatur fungsi jantung, hormon, metabolisme, dan tidur. Oleh karenanya, menyesuaikan waktu olahraga dengan ritme tubuh berdampak lebih baik untuk kesehatan jantung. “Ketika olahraga dilakukan sesuai ritme tersebut, sistem kardiovaskular bekerja lebih efisien, keseimbangan hormon menjadi lebih optimal, dan kualitas tidur ikut membaik,” jelas dia. Kelompok yang berolahraga sesuai chronotype mengalami penurunan tekanan darah sistolik lebih besar, peningkatan kapasitas aerobik, serta kualitas tidur yang lebih baik dibanding kelompok lainnya.
Mengapa jam biologis memengaruhi kesehatan jantung? Menurut ahli jantung Dr. Cheng-Han Chen, olahraga merupakan salah satu sinyal yang membantu menjaga ritme sirkadian tubuh tetap teratur. Ia menjelaskan, gangguan terhadap jam biologis dapat memengaruhi pengaturan tekanan darah, denyut jantung, hingga metabolisme.
“Olahraga membantu tubuh menyelaraskan sinyal biologis ritme sirkadian. Jika ritme ini terganggu dalam jangka panjang, risiko tekanan darah tinggi, obesitas, hingga penyakit jantung dapat meningkat,” kata Dr. Chen.
Meski demikian, penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan, sehingga masih diperlukan riset lanjutan untuk memastikan penyebab langsung dari temuan tersebut.
Tetap berolahraga meski waktunya belum ideal Meski olahraga yang disesuaikan dengan chronotype memberikan manfaat tambahan, para peneliti menegaskan bahwa aktivitas fisik kapanpun tetap jauh lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. “Olahraga apa pun tetap lebih baik daripada tidak berolahraga. Saat ini kita baru mulai memahami bahwa waktu olahraga dapat membuat manfaatnya menjadi lebih optimal,” kata Dr. Chen.
Sementara itu, Dr. Tariq menyarankan masyarakat mulai memperhatikan sinyal alami tubuh ketika menentukan jadwal olahraga. “Cara ini dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung, memperbaiki kualitas tidur, dan membuat kebiasaan berolahraga lebih mudah dipertahankan,” pungkas dia.


