Dunia Lifestyle – Tren penggunaan NaCl atau cairan infus untuk mengatasi jerawat belakangan ramai di media sosial. Banyak pengguna mengklaim wajah menjadi lebih bersih dan jerawat membaik hanya dengan mengoleskan cairan tersebut secara rutin. Namun, dokter spesialis kulit mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengikuti tren tersebut. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa normal saline dapat mengobati jerawat. Sebaliknya, terlalu lama mengandalkan metode yang belum terbukti justru berisiko membuat jerawat semakin parah hingga meninggalkan bekas permanen. Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Rumah Sakit Abdi Waluyo, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.KK, mengatakan, risiko terbesar dari penggunaan NaCl sebagai terapi jerawat bukan terletak pada cairannya, melainkan pada keterlambatan mendapatkan pengobatan yang memang terbukti efektif.
Risiko terbesar bukan NaCl, tetapi terlambat berobat , Arini menjelaskan bahwa penggunaan normal saline steril 0,9 persen relatif aman pada kulit karena merupakan larutan isotonik yang menyerupai cairan tubuh.
Larutan ini memang kerap digunakan dalam dunia medis untuk membersihkan luka, mengompres kulit, atau membilas area setelah tindakan dermatologi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa fungsi tersebut berbeda dengan mengobati jerawat. “Jika menggunakan normal saline steril, risikonya relatif kecil, tetapi penggunaan rutin tetap tidak memberikan manfaat yang terbukti untuk jerawat,” ujar dr. Arini. Menurut dia, bahaya justru muncul ketika seseorang terus mengandalkan tren viral dan menunda terapi yang sesuai dengan kondisi jerawatnya. “Risiko terbesar adalah menunda terapi yang memang terbukti efektif, sehingga jerawat menjadi semakin berat dan akhirnya meninggalkan bekas luka permanen (acne scar) yang jauh lebih sulit diatasi,” kata Arini.
Air garam racikan tidak bisa disamakan dengan cairan infus
Arini juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan normal saline steril dengan air garam yang dibuat sendiri di rumah. Ia menjelaskan bahwa air garam racikan memiliki konsentrasi yang belum tentu tepat dan tidak steril sehingga justru dapat meningkatkan risiko gangguan pada kulit. “Sebaliknya, bila menggunakan air garam dengan konsentrasi tinggi atau racikan sendiri, risikonya dapat meningkat, antara lain kulit menjadi lebih kering, iritasi dan rasa perih, gangguan skin barrier sehingga kulit lebih sensitif, memperberat eksim, rosacea, atau dermatitis pada individu yang rentan, serta meningkatkan risiko kontaminasi bila larutan tidak steril,” jelasnya. Karena itu, Arini mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap semua cairan garam memiliki fungsi yang sama hanya karena sama-sama mengandung natrium klorida.
Jerawat tidak bisa diatasi hanya dengan NaCl
Lebih lanjut, Arini menjelaskan bahwa jerawat merupakan penyakit kulit yang dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari produksi minyak berlebih, penyumbatan pori, pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes, hingga proses peradangan. Menurut dia, normal saline tidak bekerja pada mekanisme-mekanisme tersebut sehingga bukan merupakan terapi untuk mengatasi jerawat. Jika ada orang yang merasa jerawatnya membaik setelah menggunakan saline, kemungkinan hal tersebut terjadi karena perjalanan alami jerawat atau karena mereka juga menjalani perawatan lain secara bersamaan. “Belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut,” ujar dr. Arini.
Pilih terapi yang sudah terbukti secara ilmiah
Daripada mengikuti tren yang belum terbukti, Arini menyarankan masyarakat memilih terapi yang telah direkomendasikan dalam pedoman dermatologi. Beberapa terapi yang umum digunakan antara lain derivat vitamin A untuk mengatasi sumbatan pori, asam salisilat atau azelaic acid pada kondisi tertentu, antibiotik topikal maupun oral bila memang ada indikasi, serta terapi obat minum sesuai derajat keparahan jerawat.
Selain itu, perawatan dasar juga tidak boleh diabaikan, seperti menggunakan pembersih wajah yang lembut, pelembap nonkomedogenik, dan tabir surya setiap hari untuk menjaga skin barrier tetap sehat. “Tidak semua yang viral berarti efektif atau aman. Kulit setiap orang berbeda, sehingga terapi sebaiknya disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan jerawat. Dengan diagnosis yang tepat, hasil yang diperoleh biasanya jauh lebih baik sekaligus meminimalkan risiko bekas jerawat di kemudian hari,” tutur dr. Arini.


