Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal npj Mental Health Research menemukan adanya hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan depresi pada orang dewasa. Penelitian tersebut menganalisis data survei lebih dari 180.000 orang dewasa di Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade. Peneliti menemukan, hubungan antara penggunaan media sosial dan depresi semakin terlihat setelah seseorang menghabiskan sekitar 150 menit atau 2,5 jam sehari di media sosial.
Penelitian menganalisis data 183.000 orang dewasa selama 11 tahun Disadur dari USA Today, Sabtu (29/8/2026), penelitian dilakukan oleh peneliti dari University of Cincinnati dan Northwestern University dengan menganalisis 11 survei tahunan yang melibatkan sekitar 183.000 orang dewasa berusia 18 hingga 70 tahun. Data tersebut dikumpulkan dalam rentang 2014 hingga 2024 melalui Media Behaviors and Influence Study.
Survei itu dirancang untuk melihat berbagai aspek kesehatan, termasuk kesehatan mental dan kebiasaan menggunakan media. Responden ditanya mengenai penggunaan media sosial serta aktivitas lain seperti bermain gim dan menonton televisi. Mereka juga diminta melaporkan perasaan sedih dan gejala depresi yang dialami. Para peneliti kemudian menggunakan model pembelajaran mesin untuk menganalisis data dan mencari pola yang berkaitan dengan tingkat depresi. Risiko depresi meningkat setelah penggunaan melewati 2,5 jam Hasil penelitian menunjukkan penggunaan media sosial tidak langsung muncul sebagai prediktor kuat terhadap depresi pada durasi yang lebih rendah. Pola tersebut baru terlihat ketika penggunaan mencapai sekitar 150 menit atau 2,5 jam setiap hari. Setelah melewati ambang tersebut, penggunaan media sosial yang lebih lama berkaitan dengan kemungkinan lebih tinggi untuk melaporkan depresi.
Peneliti memperkirakan setiap tambahan satu jam penggunaan setelah batas tersebut berkaitan dengan peningkatan sekitar 17 persen pada kemungkinan depresi yang dilaporkan sendiri. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan faktor seperti usia, pendapatan, pendidikan, dan jenis kelamin. Temuan itu juga konsisten selama periode penelitian. Bahkan ketika data yang berasal dari sekitar masa pandemi Covid-19 dikeluarkan dari analisis, pola hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan depresi tetap terlihat.
Peneliti ingatkan perubahan fungsi media sosial Peneliti senior di University of Cincinnati sekaligus salah satu penulis studi, Nicole Vike mengatakan, fungsi media sosial telah mengalami perubahan.
“Pada awalnya, media sosial merupakan sarana sosial untuk berinteraksi dengan orang-orang yang dikenal. Sekarang, penggunaan media sosial lebih banyak berkaitan dengan mengonsumsi konten dari orang-orang yang tidak dikenal,” ujar Vike dalam pernyataan University of Cincinnati. Ia juga menyoroti bagaimana penggunaan media sosial dapat terasa sangat sulit dikendalikan.
“Lihat saja para kreator konten yang terus-menerus berada di dunia maya. Mereka sering kali harus mengambil jeda selama berbulan-bulan dari dunia daring demi kesehatan mental mereka,” kata Vike. Perubahan dari interaksi sosial menjadi konsumsi konten secara terus-menerus dinilai menjadi salah satu konteks penting dalam memahami kebiasaan penggunaan media sosial saat ini.
Studi menemukan hubungan, bukan membuktikan penyebab depresi Meski menemukan pola yang konsisten, penelitian ini tidak membuktikan bahwa penggunaan media sosial secara langsung menyebabkan depresi.
Para peneliti menekankan bahwa penelitian tersebut menunjukkan korelasi atau hubungan antara kedua hal tersebut.
Dengan demikian, belum dapat dipastikan apakah penggunaan media sosial yang berlebihan meningkatkan risiko depresi atau justru orang yang mengalami masalah kesehatan mental cenderung lebih banyak menggunakan media sosial. Penelitian tersebut juga memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah peneliti tidak mengikuti individu yang sama dari waktu ke waktu untuk melihat perubahan penggunaan media sosial dan kondisi depresinya.
Selain itu, kategori “penggunaan media sosial” tidak dibedakan berdasarkan aktivitas yang dilakukan. Misalnya, penelitian tidak secara khusus memisahkan kebiasaan menggulir konten tanpa tujuan dengan aktivitas berinteraksi bersama teman. Martin Block, penulis utama bersama sekaligus profesor emeritus di Northwestern University, menyebut temuan tersebut sebagai peringatan untuk memperhatikan dampak media sosial.
“Media sosial memiliki dampak negatif penting melalui hubungannya dengan depresi, sama seperti mobil berkaitan dengan cedera akibat kecelakaan dan polusi,” tutur Block. Temuan ini pada akhirnya tidak menetapkan batas penggunaan media sosial yang secara pasti aman bagi setiap orang. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa durasi penggunaan yang melewati sekitar 2,5 jam sehari layak menjadi perhatian, terutama ketika kebiasaan tersebut mulai mengganggu keseharian dan suasana hati.